PARADIGMA SAINS-MISTIS FRITJOF CAPRA

Sejak berkembangnya hipotesa Relativitas Einstein, dunia fisika mengalami pergolakan paradigma. Struktur paradigma lama yang didasarkan pada paradigma Cartesian dan Newton mengalami pergeseran. Semua batasan-batasan absout yang ditegakkan oleh Cartesius dan Newton di dalam rumus-rumus “ilmu pasti”-nya mulai dipertanyakan, bahkan diruntuhkan oleh pemikiran-pemikiran dan rumus-rumus relativisme yang merupakan “ilmu relatif”.

Bahkan setelah perkembangan fisika nuklir, yang merupakan aplikasi dari hipotesa Einstein, telah berhasil menelurkan beberapa hasil tertentu, maka hipotesa Einstein semakin menekan teori-teori fisika Newton. Beberapa ahli fisika modern, dengan segera dan senang hati menerima paradigma baru ini untuk diperkembangkan lebih lanjut. Beberapa di antara para tokoh tersebut adalah fisikawan modern seperti Stephen Hawkings dan Fritjof Capra. Di dalam makalah ini secara khusus akan disoroti paradigma yang dipaparkan oleh Capra, dimana ia mengkaitkan sains dengan pemikiran Tao dari Lao Tze.

Paradigma Atau Asumsi Dasar Capra

Fritjof Capra memulai teorinya dengan sejumlah asumsi dasar, yang menjadi suatu paradigma bagi seluruh pemakaian sainsnya. Sekalipun ia berusaha untuk mencari dukungan untuk asumsi-asumsi yang ditegakkannya, terlihat sekali di beberapa bagian, justru asumsi-asumsi itulah yang mewarnai interpretasinya terhadap realita sejarah sains.

1.         Fisika Cartesian dan Newtonian kadaluarsa

Bagi Capra, fisika Cartesian dan Newtonian telah salah memandang alam semesta. Seluruh materi hanya dianggap sebagai benda mati.

Dengan argumentasinya ini, Capra menyerang pendekatan Cartesian, Newtonian dan sekaligus menyerang Kekristenan, dengan asumsi bahwa pandangan dunia materi itu mati adalah salah, dan bahwa Tuhan memerintah dunia inipun juga salah. Capra beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari materi yang hidup, sehingga seluruh paradigma Cartesian dan Newtonian sama sekali tidak dapat dipakai lagi. Akibatnya paradigma sains perlu diganti dengan paradigma dari sains modern, yang mengacu kepada teori Relativitas.

2.         Relasi erat fisika modern dan mistisisme timur

Fisika Modern dimulai oleh Galileo, yang bercirikan kombinasi antara pengetahuan empiris dengan matematika. Oleh karena itu, Capra melihat Galileo sebagai bapak dari Sains Modern. Tetapi ia juga melihat bahwa akar dari perkembangan sains bermula dari filsafat Gerika, khususnya dari arus pikir Milesian, yang dapat dikatakan sangat mirip dengan konsep pikir monistis dan organis dari filsafat India dan Cina kuno. Mereka sama-sama percaya adanya Prinsip Ilahi yang mengatasi semua Allah dan manusia.

3.         Kesamaan pendekatannya: Relativisme.

Problema penggabungan kedua bidang besar, menurut Capra haruslah dipandang dengan terlebih dahulu menyelesaikan pengertian “mengetahui” dan bagaimana pengetahuan itu diekspresikan.

Kita sulit menyadari akan keterbatasan dan relativitas pengetahuan konseptual kita. Kita akan sulit membedakan antara realitas yang sesungguhnya dari konsep atau simbol realita itu, yang diutarakan oleh pengetahuan konseptual kita. Menurut Capra, disinilah Mistisisme Timur memberikan jalan keluar untuk kita tidak perlu bingung lagi.

Untuk ini, paradigma pengetahuan kita jarus diubah, dari pengetahuan konseptual menuju kepada pengetahuan eksperimental, agar kita dapat langsung bertemu dengan realita itu sendiri. Pengetahuan eksperimental ini melampaui pengetahuan intelektual dan juga persepsi inderawi kita.

Disini Capra melangkah lebih jauh dengan meletakkan pengetahuan intuitif (intuitive knowledge) di atas pengetahuan rasional, bahkan riset rasional. Memang kemudian, ia mengatakan bahwa wawasan intuitif tidak terpakai di dunia fisika, kecuali ia bisa diformulasikan di dalam kerangka kerja matematis, yang didukung dengan suatu penafsiran dalam bahasa yang gamblang.

Sebaliknya, ia juga mengargumentasikan adanya elemen rasional di dalam Mistisisme Timur. Memang tingkatan pemakaian rasio dan logika berbeda-beda di setiap arus pikir ini. Ia melihat bahwa Taoist sangat mencurigai rasio dan logika.  Dan di dalam dunianya, Mistisisme Timur didasarkan pada wawasan langsung ke dalam nature realitanya, sedangkan fisika didasarkan pada penelitian terhadap fenomena natural di dalam pengujian ilmiah. Dan dalam hal ini keduanya masuk ke dalam dunia relatif.

4.         Natur yang holistik dan organik.

Fisika baru ini dimulai dengan keharusan kita mengadopsi pandangan yang lebih penuh, menyeluruh dan ‘organik’ terhadap natur. Untuk itu kembali Capra menekankan perlunya kita meninggalkan paradigma lama dari fisika klasik.

Pada tingkat lanjut, Capra memasukkan konsep Panteisme dari Mistisisme Timur sebagai paradigma sains, yaitu memandang seluruh keberadaan sebagai keberadaan tunggal, yang menyatu dan tidak perlu dan tidak bisa diperbedakan lagi.

Capra mengacu bahwa manusia sering tidak menyadari realita seperti ini, karena manusia selalu membagi-bagi dunia ini di dalam berbagai obyek dan peristiwa. Capra mengakui perlunya pembagian ini untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, tetapi itu semua bukanlah unsur fundamental dari realita.

Paradigma ini didukung oleh perkembangan fisika atom, dimana konstituen setiap materi dan fenomena dasar atomik ini sangat berkaitan erat satu sama lain dan saling bergantung satu dengan yang lain; sehingga mereka tidak lagi dapat dimengerti sebagai suatu unsur yang berdiri sendiri, melainkan hanya bisa dimengerti sebagai satu bagian integral dari suatu keseluruhan.

5.         Seluruh realita sains tidak bertentangan

Karena semua realita pada dasarnya tunggal, maka tidak mungkin ada satupun fenomena yang bisa dipertentangkan. Semua dualism, seperti pagi dan petang, hidup dan mati, dsb. Haruslah dilihat hanya sebagai dua sisi dari satu realita tunggal. Disini seluruh konsep pembagian, keteraturan, keterbatasan, kekhususan, tidak boleh lagi membatasi perkembangan pemikiran sains dan cara mengerti realita dunia ini. Capra berargumen, justru karena pemikiran akan struktur keteraturan, maka manusia tidak pernah bisa mengerti pergerakan elektron, sampai manusia menerima bahwa pergerakan elektron memang pergerakan yang tidak bisa diduga dan tidak pasti adanya.

Capra juga menekankan bahwa di dalam paradigma Sains Modern ini, kekosongan dan kepenuhan (emptiness and form) bukan dua hal yang bertentangan lagi, tetapi lebih merupakan satu realita tunggal.

Akibatnya, jelaslah bahwa paradigma Newton tidak dapat lagi diterapkan di dalam paradigma yang baru ini. Penggabungan antara kekosongan dan bentuk, menjadikan seluruh realita tidak dapat lagi dimengerti secara biasa, tetapi menuntut adanya pola pandang yang baru.

About Magaratta Tr

...!!!??? n_n

Posted on Februari 6, 2011, in Philosophy and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: